*LAH INI MAU DIAJAKIN NGGAK FOKUS*
.
.
.
Wait 😎
Saat pertama kali mendengar nama Leonardo da Vinci, apa yang seketika terlintas dibenak kita?
Yes, sama. Sama dengan Saya. Dia adalah pelukis fenomenal dengan lukisannya Mona Lisa.
Namun jika kita tilik lebih jauh perjalanan hidupnya, ada fakta yang terbentang bahwa ia juga seorang ilmuwan anatomi, fisiologi bahkan fisikawan yang tidak hanya menuntaskan temuan-temuan praktis.
Ya... ternyata Leonardo da Vinci seorang Polymath. Label ini yang tepat diberikan untuknya. Dan label yang samapun disematkan pada nama Billie Eilish, ia seorang American singer-songwriter.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa Polymath?
Polymath adalah seseorang yang memiliki wawasan sangat luas dan pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang.
Lah.. lah.. diajakin nggak fokus ini!.
Tunggu dulu 😎
Baca sampai selesai.
Boleh ya?
Coba kita bedakan tidak fokus atau kaum generalis dengan Polymath.
Generalis adalah sosok yang memiliki pengetahuan dan pemahaman dalam berbagai bidang keilmuan, dan dianggap sebagai jalan menuju mediokritas atau ketidakefisienan. Kebanyakan golongan ini hanya sebagai kolektor pengetahuan.
Sedangkan polymath dianggap master diberbagai bidang. Mereka menggabungkan semuanya untuk menghasilkan ide-ide luar biasa untuk kembali dijelajahi.
Tentu kita masih ingat, The Founder pernah mengatakan ini (semoga Saya tidak keliru memahami), "silahkan gunakan wawasan/keilmuan/pengetahuan kalian yang beragam tersebut untuk mengembangkan bisnis British Propolis ini".
Ini signal bahwa bisnis British Propolis dikembangkan oleh The Founder bukan dari satu disiplin ilmu. Ekosistem ini kuat karena mengkolaborasikan banyak disiplin ilmu yang bermuara pada satu tujuan. Bak sebuah bangunan, peran sebutir pasir sekalipun tak bisa diabaikan untuk kokohnya bangunan.
Dari penjelasan singkat diatas, kita bisa membayangkan bahwa seorang polymath adalah mereka yang telah mempelajari dan mengerti multidisiplin ilmu dan terpenting mampu memanfaatkan semua itu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.
Menjadi polymath bukan berarti kita latah ingin tahu semua hal, namun menyadari kondisi sekarang sudah berbeda. Inovasi hari ini dan masa depan akan selalu hadir dari mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu yang berbeda untuk menjadi problem solve.
Contoh selain da Vinci, adalah Elon Musk, bagaimana ia berhasil mengintegrasikan teknik, design dan ilmu marketing dengan baik.
Pertanyaan selanjutnya. Bagaimana bisa menjadi polymath?
Satu dari beberapa jawaban adalah *bekerja lebih dari 12 jam dalam satu hari, apa kita kuat?*. Tapi ini yang dilakukan Elon.
Saat kita diminta membaca 2 buku dalam satu bulan, gimana rasanya? Duh.. susah. Cita-cita sih sukses ya kan? Hehehe. Elon Musk baca 2 buku dalam 1 hari. Kuncinya adalah haus akan pengetahuan, tapi dibikin koleksi ala perpustakaan di dalam proses berpikir dan alam bawah sadar.
Menjadi polymath, akan membuat kita dapat melakukan "transfer konteks" yakni bagaimana pengetahuan yang satu dapat diterapkan dibidang lain. Sehingga menjadi inovasi.
Terakhir...
Kata triliuner Ray Dalio, mereka yang kaya akan pengetahuan bisa menggunakan cara yang tidak terpikirkan oleh mereka yang kurang pengetahuannya.
Sudah kebayangkan?
Saya nggak ngajakin untuk nggak fokus justru jika kita punya sudut pandang yang luas dan paham kondisi secara komprehensif, tentunya memudahkan kita untuk tahu aspek mana yang butuh perhatian dan fokus lebih. Setujukan?
Kesimpulannya:
*Menjadi polymath bisa menjadi kunci membuat sebuah terobosan.*
Demikian. Semoga ada manfaat yang bisa diambil.
Salam FAST OF KSJ
Nani Puspita Ansyar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar